Kilasan – Keluhan masyarakat terkait sulitnya mendapatkan BBM Solar kembali mencuat di Kabupaten Muara Enim. Ironisnya, kondisi itu terjadi di daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung energi di Sumatera Selatan.
Antrean panjang kendaraan terjadi di SPBU Kepur Muara Enim, Jumat (29/5/2026). Sejumlah pengendara mengaku harus menunggu berjam-jam demi mendapatkan Solar subsidi, bahkan rela meninggalkan pekerjaan mereka.
Salah seorang warga Muara Enim, Wawan (40), mengaku mulai mengantre sejak pukul 06.00 WIB. Namun hingga pukul 14.30 WIB dirinya belum juga mendapatkan BBM Solar.
“Saya sudah antre BBM Solar dari pukul 06.00 WIB, hingga pukul 14.30 WIB masih ngantri belum dapat BBM dan izin tidak kerja hari ini,” ujarnya dengan nada kecewa.
Menurut Wawan, sehari sebelumnya ia juga sempat mendatangi SPBU Kepur untuk membeli Solar, namun stok saat itu kosong.
Berharap kondisi membaik, ia kembali datang keesokan harinya lebih pagi agar bisa segera bekerja setelah mengisi BBM. Namun kenyataannya antrean justru semakin panjang.
“Tadi saya tanya ke petugas SPBU, katanya nozelnya rusak satu sehingga cuma satu nozel yang berfungsi. Kalau sebelumnya dilayani dengan dua nozel,” katanya.
Kerusakan teknis tersebut membuat waktu antrean semakin panjang. Jika sebelumnya masyarakat hanya perlu menunggu sekitar dua hingga tiga jam, kini antrean bisa mencapai tujuh hingga delapan jam bahkan lebih.
Kondisi itu dinilai sangat merugikan masyarakat, khususnya sopir dan pekerja harian yang menggantungkan penghasilan dari kendaraan berbahan bakar Solar.
“Kalau kita tidak mengantri kita tidak dapat minyak. Kami heran mengapa tambah sulit, harusnya Muara Enim daerah lumbung energi ada keistimewaan jangan dipersulit. Ini seperti ayam mati di lumbung padi,” tegasnya.
Wawan juga menyoroti minimnya fasilitas pengisian BBM Solar di wilayah Muara Enim. Menurutnya, hanya ada satu SPBU yang melayani Solar untuk masyarakat Muara Enim dan Tanjung Enim.
“Jadi sangat tidak masuk akal. Tolong kepada Pertamina atau pemerintah ditambah jumlah SPBU dan pasokannya. Bandingkan dengan Kota Prabumulih, itu ada empat SPBU,” katanya.
Sementara itu, pengurus SPBU Kepur Agus membenarkan adanya gangguan teknis pada salah satu nozel Solar yang menyebabkan pelayanan menjadi lebih lambat.
Akibat kerusakan tersebut, petugas hanya dapat mengoperasikan satu nozel secara bergantian.
“Kita sudah berusaha melakukan perbaikan dan berkoordinasi dengan pihak Telkom untuk memperbaiki fungsi nozel saat ini,” ujarnya.
Agus menjelaskan SPBU Kepur setiap hari menerima pasokan sekitar delapan ton Solar dari Pertamina. Namun pada Kamis sebelumnya, distribusi Solar sempat tidak tersedia sehingga pelayanan dihentikan sementara.
“Kita akan jual terus sampai habis jika ada pasokan. Kalau 8 ton pasti antriannya banyak,” pungkasnya.
Kondisi antrean panjang ini memunculkan harapan masyarakat agar pemerintah daerah maupun pihak terkait segera mencari solusi jangka panjang, mulai dari penambahan pasokan, perbaikan fasilitas SPBU, hingga pemerataan distribusi BBM Solar di wilayah Muara Enim dan sekitarnya.(aep)
