Kilasan – Ancaman kekeringan kembali menghantui petani di kawasan Ataran Lecah Paye, Desa Tanjung Jati, Kecamatan Muara Enim. Sebanyak 132 hektare lahan persawahan mengalami kesulitan air menjelang musim tanam padi Indeks Pertanaman (IP) 200, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya gagal tanam seperti yang pernah dialami pada musim-musim sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat petani mempertanyakan fungsi Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang dibangun pemerintah pada tahun 2025. Meski proyek tersebut telah selesai dikerjakan, hingga kini petani mengaku belum merasakan manfaat nyata dari keberadaan fasilitas pengairan tersebut.
Ataran Lecah Paye sendiri merupakan salah satu sentra pertanian padi di Kabupaten Muara Enim dengan luas sekitar 700 hektare yang tersebar di wilayah Desa Tanjung Jati, Muara Lawai, Lubuk Emplas, dan Kepur. Dari total luas tersebut, sekitar 132 hektare berada di Desa Tanjung Jati.
Berdasarkan pantauan di lapangan, terdapat sedikitnya tujuh titik sumur bor JIAT yang telah dibangun. Namun seluruh fasilitas tersebut disebut belum berfungsi maksimal untuk memenuhi kebutuhan air lahan persawahan masyarakat.
Ketua Gapoktan Sumber Harapan Desa Tanjung Jati, Fitriansyah, mengatakan persoalan utama yang dihadapi petani saat ini adalah ketersediaan air untuk memasuki musim tanam IP 200.
Menurutnya, selama ini sebagian besar petani masih mengandalkan sistem tadah hujan untuk mengairi sawah mereka. Kondisi tersebut menjadi kendala serius ketika curah hujan menurun dan musim kemarau mulai tiba.
“Saat ini seharusnya sudah memasuki musim tanam. Namun kondisi cuaca mulai mengarah ke musim kemarau sehingga petani sangat membutuhkan pasokan air untuk mendukung penanaman padi IP 200,” ujarnya, Selasa (9/6/2026).
Fitriansyah menjelaskan bahwa masyarakat menyambut baik pembangunan JIAT yang dilakukan pemerintah pada tahun lalu. Namun hingga kini, petani belum mengetahui secara pasti kendala yang menyebabkan jaringan tersebut belum dapat beroperasi secara optimal.
Ia mengaku masyarakat juga belum menerima penjelasan resmi terkait hambatan teknis maupun administrasi yang mengakibatkan sistem pengairan tersebut belum mampu mengaliri lahan pertanian secara maksimal.
“Pada tahun 2025 lalu ada program pemerintah berupa JIAT. Namun setelah pembangunan selesai hingga saat ini belum terasa manfaatnya bagi petani. Masyarakat berharap bangunan tersebut segera bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk pengairan sawah,” katanya.
Menurutnya, masyarakat sebenarnya telah berupaya mencari solusi secara mandiri untuk mengatasi kekurangan air, termasuk dengan membuat sumur bor dan berbagai sarana pendukung lainnya. Namun langkah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan air untuk seluruh lahan pertanian yang ada.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena sekitar 500 kepala keluarga menggantungkan penghidupan dari sektor pertanian di kawasan Ataran Lecah Paye. Bahkan sekitar 95 persen dari jumlah tersebut merupakan keluarga petani yang sangat bergantung pada keberhasilan musim tanam.
Fitriansyah menambahkan bahwa lahan sawah di kawasan tersebut memiliki potensi produksi yang cukup tinggi dengan rata-rata hasil panen mencapai 10,5 ton per hektare apabila kebutuhan air tercukupi.
Karena itu, ia berharap pemerintah dan pihak terkait segera melakukan evaluasi serta percepatan pemanfaatan JIAT agar fasilitas yang telah dibangun dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Petani berharap JIAT yang dibangun pemerintah segera dapat difungsikan untuk memenuhi kebutuhan air sawah masyarakat. Selama ini petani berulang kali mengalami gagal tanam pada musim IP 200 karena kekurangan air,” ujarnya.
Selain untuk menjaga produktivitas pertanian, optimalisasi sistem irigasi juga dinilai penting dalam mendukung program ketahanan pangan nasional yang saat ini menjadi salah satu prioritas pemerintah.
Masyarakat berharap adanya langkah konkret dari instansi terkait untuk menjelaskan kondisi terkini proyek JIAT sekaligus memastikan sistem pengairan tersebut dapat segera dimanfaatkan oleh petani sehingga musim tanam tahun ini tidak kembali terganggu akibat krisis air.
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab belum optimalnya operasional Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di kawasan Ataran Lecah Paye.(aep)
