Kilasan – Praktik membakar sampah tanpa pengawasan kembali membawa petaka di Kabupaten Muara Enim. Sedikitnya hamparan lahan seluas 1,5 hektare di Kampung 5, Desa Karang Raja, Kecamatan Muara Enim, hangus terbakar usai terimbas sisa pembakaran sampah yang dibiarkan menyala, Kamis (22/10/2026).
Berdasarkan laporan resmi Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muara Enim, insiden Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) ini dipicu oleh kelalaian manusia. Hingga kini, identitas oknum yang memicu kebakaran akibat pembakaran sampah tersebut masih dalam penelusuran.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Muara Enim, Abdurrozieq Putra, menegaskan bahwa merespons laporan darurat dari masyarakat, Tim Reaksi Cepat dari Posko Induk Karhutla langsung diterjunkan ke titik lokasi guna melakukan bloking api dan pendinginan (cooling down).
“Sebanyak 27 personel gabungan langsung diterjunkan untuk menangani kebakaran tersebut. Petugas juga mengerahkan kekuatan armada secara maksimal, di antaranya mobil suplai air berkapasitas 4.000 liter, mesin pompa jinjing, selang pemadam (machino), armada pemadam kebakaran, serta mobil tangki air tambahan,” urai Abdurrozieq.
Keberhasilan memblokade pergerakan api tak lepas dari sinergi solid lintas sektoral di lapangan. Pemadaman bahu-membahu dieksekusi oleh BPBD bersama personel Damkar Pos Muara Enim, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Kodim 0404-07 Muara Enim, prajurit Damkar Batalyon Infanteri (Yonif) 141/Aneka Yudha Jaya Prakosa (AYJP), Bhabinkamtibmas Polres Muara Enim, perangkat Desa Karang Raja, serta partisipasi aktif warga setempat.
Berkat respons kolektif tersebut, amukan si jago merah berhasil dilumpuhkan di area seluas 1,5 hektare. Kendati secara visual api telah padam, Abdurrozieq menyebut tim di lapangan masih menemukan kepulan asap tipis dari sisa bara yang tersembunyi. Oleh sebab itu, proses pendinginan terus diintensifkan guna menyapu bersih titik panas dan mengantisipasi penyalaan kembali (re-ignition).
Bersamaan dengan operasi pemadaman fisik, tim satgas karhutla juga memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan teguran dan edukasi langsung kepada masyarakat sekitar agar mengubah kebiasaan buruk yang membahayakan lingkungan.
“Selain melakukan pemadaman, petugas gabungan gencar menyosialisasikan larangan keras membuka lahan pertanian dengan cara membakar (slash-and-burn) maupun melakukan pembakaran sampah sembarangan yang sangat berpotensi menjadi pemicu awal bencana karhutla,” tegasnya.
Abdurrozieq mendesak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan sensitivitas dan kewaspadaan terhadap ancaman api, terlebih di saat kondisi lahan mudah terbakar. “Kewaspadaan dan peran aktif masyarakat sangat mutlak diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas serta mengurangi risiko kerugian materiil dan ekologis. Segera laporkan ke layanan darurat jika menemukan titik api sekecil apa pun di lingkungan Anda,” tutupnya.(aep)
