Kilasan – DIMS Signature hadir tidak sekadar menawarkan tempat makan dan minum, tetapi mencoba membangun sebuah ruang yang dapat digunakan berbagai kalangan untuk berkegiatan, berinteraksi dan berkolaborasi.
Berada di Tanjung Enim dengan area sekitar 4.000 meter persegi, DIMS Signature membuka ruang bagi berbagai segmen masyarakat, mulai dari generasi muda, keluarga, komunitas, pelaku kreatif hingga korporasi yang menawarkan ruang yang nyaman baik out door maupun indor.
Konsep tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang secara bertahap akan dikembangkan DIMS Signature. Salah satunya melalui “Main di Laman”, sebuah kegiatan yang memadukan diskusi kreatif dan pertunjukan musik.
Pada gelaran Main di Laman, DIMS menghadirkan bincang kreatif yang membahas perkembangan ekonomi kreatif di Muara Enim dengan menghadirkan Fikri MS sebagai pelaku seni dan Agung Saputro sebagai pelaku usaha.
Diskusi tersebut menjadi ruang untuk membicarakan kondisi pelaku ekonomi kreatif saat ini, termasuk persoalan apresiasi terhadap karya dan proses kreatif yang dinilai masih belum sebanding dengan nilai ekonominya.
Selain diskusi, Main di Laman juga menghadirkan penampilan dari para musisi seperti Kara, Pewok Abisatya dan Hutan Tropis. Para penampil mengajak pengunjung bernyanyi bersama melalui sejumlah lagu yang telah familiar, seperti Hutan Tropis yang membawakan beberpa singlenya seperti Cinde, Pergi, Penari Langit, Dempo dan beberapa karya lainnya yang mengajak pengunjung bernyanyi bersama.
Bagi DIMS, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda hiburan, tetapi bagian dari upaya memperkenalkan fungsi ruang yang sedang dibangun untuk masyarakat baik itu yang ada di seputran Tanjung Enim maupun Muara Enim Khususnya.
Owner DIMS Signature, Rachmat Sukarna, mengatakan, DIMS sejak awal tidak ingin hanya berorientasi pada bisnis. Ke depan, DIMS diharapkan dapat berkembang menjadi ruang yang memiliki fungsi lebih luas, termasuk untuk kegiatan sosial, pendidikan, komunitas dan berbagai aktivitas masyarakat.
“DIMS tidak hanya berorientasi ke bisnis. Nantinya bukan hanya F&B, tetapi juga pendidikan sosial dan hal-hal lainnya. Kita ingin menjadi pusat kegiatan dan ruang bersama,” ujar Rachmat, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, proses tersebut tidak dapat dilakukan secara instan. DIMS terlebih dahulu ingin mengenal lebih dekat masyarakat dan berbagai komunitas yang ada di sekitar Tanjung Enim dan Muara Enim.
Mulai dari komunitas sekolah, olahraga, kegiatan sosial hingga kelompok kreatif, DIMS berupaya mengetahui kebutuhan masing-masing komunitas sehingga ruang yang tersedia dapat dimanfaatkan secara tepat.
“Kita ingin mengenal lebih dekat dan mengenal banyak komunitas. Kita ingin tahu apa yang mereka butuhkan, kemudian kita petakan dan mencari modelnya,” katanya.
DIMS juga terbuka terhadap masukan pengunjung, termasuk generasi Z yang menjadi salah satu kelompok penting dalam perkembangan ruang kreatif saat ini. Masukan tersebut akan menjadi bahan untuk mengembangkan konsep dan kegiatan DIMS ke depan.
“Menu dan konsep yang ada saat ini masih umum, tetapi kita juga menerima masukan dari pengunjung, khususnya Gen Z. Sangat mungkin kita kembangkan dari masukan itu,” ujarnya.
Selain pengunjung umum, DIMS juga menyiapkan peluang kerja sama dengan komunitas maupun korporasi. Berbagai paket atau bundling akan dikembangkan sesuai kebutuhan, sehingga DIMS dapat menjadi pilihan untuk kegiatan keluarga, komunitas maupun agenda perusahaan.
Rachmat berharap keberadaan DIMS nantinya tidak hanya dikenal sebagai tempat komersial, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan komunitas lokal.
“Kita ingin membangun komunikasi dan hubungan sosial dengan masyarakat, sehingga ada rasa bersama-sama memiliki. Ke depan akan ada ide-ide baru yang kita serap dari masyarakat dan kita aplikasikan,” katanya.
Melalui berbagai kegiatan yang akan terus dikembangkan, DIMS Signature ingin membangun identitas sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja. Tempat untuk menikmati kuliner, bertemu, berbincang, menikmati musik, menjalankan kegiatan komunitas, sekaligus membuka peluang kolaborasi.
“Main di Laman” menjadi salah satu bentuk awal dari konsep tersebut—sebuah kegiatan yang mempertemukan masyarakat, pelaku kreatif dan komunitas dalam satu ruang yang disiapkan DIMS Signature.(rls)
