Kilasan – Bencana angin puting beliung yang melanda Desa Babatan, Kecamatan Semende Darat Laut (SDL), Kabupaten Muara Enim, tidak hanya merusak fasilitas pendidikan, tetapi juga mengungkap persoalan serius pada kualitas konstruksi bangunan.
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (9/4/2026) sekitar pukul 16.30 WIB, di mana atap ruang kelas SMP Negeri 5 Desa Babatan dilaporkan melayang akibat terjangan angin kencang.
Akibat kejadian ini, proses belajar mengajar di sekolah tersebut terganggu dan memerlukan penanganan segera agar aktivitas pendidikan dapat kembali normal.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kabupaten Muara Enim, tim langsung turun ke lokasi untuk melakukan peninjauan, pendataan, serta memberikan imbauan kepada masyarakat.
Upaya yang dilakukan meliputi pemeriksaan lokasi, dokumentasi kerusakan, serta sosialisasi kepada warga agar meningkatkan kewaspadaan saat terjadi angin kencang dan segera mencari tempat aman.
Penanganan ini melibatkan lintas instansi, di antaranya BPBD, Dinas PUPR, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Perkimtan, pihak kecamatan, hingga pemerintah desa setempat.
Namun, hasil analisis awal menunjukkan bahwa kerusakan yang terjadi tidak semata-mata disebabkan oleh kekuatan angin, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor konstruksi bangunan.
Dalam laporan analisis, disebutkan adanya dugaan kelemahan pada sistem struktur, seperti ikatan atap yang tidak kuat (anchorage), tidak adanya pengaku angin (bracing), hingga kualitas sambungan yang tidak memenuhi standar teknis.
Selain itu, desain bangunan dinilai belum adaptif terhadap karakteristik beban angin di wilayah tersebut.
Dengan kata lain, angin kencang memang menjadi pemicu utama, namun kegagalan konstruksi menjadi faktor penentu tingkat kerusakan yang terjadi.
Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah daerah, terutama dalam memastikan standar pembangunan fasilitas publik, khususnya sekolah, agar lebih tahan terhadap risiko bencana.
BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu, serta mendorong peningkatan kualitas infrastruktur yang lebih tangguh terhadap bencana.(aep)
